logo CYS

Rilis Global

Sepatu dengan cap ‘Made in Europe’ – dibuat untuk Upah Lapar

20 Juni 2016

Untuk pertama kalinya, riset terbaru mengungkapkan biaya riil yang harus dikeluarkan industri manufaktur di Eropa Timur:  puluhan ribu pekerja yang memproduksi sepatu dan dijual dengan cap ‘buatan Italia’ atau ‘Jerman’— acapkali dengan penghasilan yang jauh lebih sedikit dibandingkan rekanan mereka di RRC. Hingga kini, banyak perusahaan bermerk ternama masih minim perhatian terhadap kondisi pabrik di wilayah dimana sepatu-sepatu ini diproduksi.

Lebih dari 24 pasang sepatu diproduksi secara global pada tahun 2014. Sekalipun mayoritas produksinya dilakukan di Asia, Eropa juga memainkan peranan penting dalam sektor ini, terutama saat kita bicara perihal sepatu kulit mahal. Italia, Portugal, dan Spayol secara kolektif bertanggung jawab memproduksi 23 persen dari seluruh sepatu kulit, dengan Italia yang menjadi pemain utama proses produksi di wilayah Eropa.

Tahap manufaktur sepatu yang paling intensif menggunakan buruh seringkali dilakukan di Eropa Timur dan Negara-negara Balkan. Ada dua alasan yang melandasi hal ini: kedekatan jarak terhadap pangsa pasar Eropa, yang kemudian akan memastikan pengantaran produk yang cepat, dan upah yang amat sangat rendah. Laporan bertajuk Labour on a Shoestring mengungkapkan realitas pekerja di pabrik-pabrik sepatu di enam Negara Eropa. Isu terbesar masih berkisar seputar upah yang terlalu jauh dan rendah. Upah minimum berdasar UU yang berlaku di Albania, Makadonia, dan Rumania terlampau sedikit, berdasar urutannya beriksar antara EUR 140, EUR 145 dan EUR 156, jauh lebih sedikit dari ketentuan legal minimum di RRC. Agar para pekerja di pabrik-pabrik di Albania, Makadonia, dan Rumania—yang sebagian besar merupakan perempuan – untuk mendapatkan pendanaan bagi diri mereka sendiri dan kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi. Banyak buruh mendapatkan upah berdasarkan unit produksi mereka alih-alih hitungan per jam, mereka seringkali bekerja menempuh lembur tak dibayar atau menolak mengikuti prosedur keselamatan yang dapat melindungi mereka dari lem dan zat-zat kimia berbahaya agar dapat menjaga produktivitasnya tetap tinggi. Pada banyak pabrik, para buruh menghadapi cuaca ekstrim saat dinginnya angin berhembus di musim dingin dan temperatur meninggi saat musim panas hingga mereka seringkali pingsan. Bukti yang ada di lapangan cukup jelas: terdapat masalah yang endemik dan sistemik terkait industri sepatu dan pakaian sebagai isu global, dan permasalahan ini tidak berhenti di perbatasan benua Eropa saja.

Laporan riset terhadap beberapa perusahan yang kami luncurkan menunjukkan bagaimana bisnis-bisnis dan pihak retail telah, hingga kini, sangat minim perhatian terkait kondisi-kondisi dimana sepatu-sepatu dimanufaktur. Hal ini dibuktikan dalam laporan kami berjudul Trampling workers rights underfoot. Sebelas perusahaan tidak dapat menyediakan informasi apapun sama sekali, bahkan kedua belas perusahaan yang memberikan jawaban tidak menyediakan bukti-bukti yang menguatkan fakta bahwa UU perburuhan dasar diterapkan kepada mereka, atau bahwa para pekerja yang memproduksi sepatu bagi mereka mendapatkan upah hidup. Kampanye ‘Change Your Shoes’ merupakan kemitraan antara 18 organisasi di Eropa dan Asia, yang bertujuan menghimpun perusahaan-perusahaann penghasil brand  dan retail untuk melakukan pengecekan kewajiban moral guna menjamin penghormatan atas HAM dan penegakkan terhadap undang-undang perburuhan di sepanjang rantai suplainya. Secara khusus, sangat penting jika upah ditingkatkan secara berkala agar sejalan dengan upah hidup.

Kontak Change Your Shoes di Indonesia: Pricilia Purnama