DSC_3391

Talitha Rahma

Ada suasana yang berbeda di antara kawasan bunderan HI dan kawasan patung Arjuna dekat monumen nasional (Monas) pagi hari ini. Sejauh mata saya memandang terlihat ratusan orang berkumpul memadati dua kawasan ini dengan memakai baju yang berwarna-warni dan membawa spanduk serta bendera ukuran besar. Ada apa dengan hari ini? Ya, hari ini adalah tanggal 1 Mei 2016, hari besar bagi buruh di seluruh penjuru dunia (Mayday). Hari ini merupakan momentum ratusan buruh berkumpul untuk menyuarakan tuntutan-tuntutannya kepada pemerintah.

Ada pemandangan yang unik, yang saya lihat dalam acara Mayday tersebut. Di salah satu sudut jalan di sekitar patung Arjuna terlihat sembilan orang perempuan sedang berkumpul di antara ratusan buruh lainnya. Mereka bukan perempuan biasa yang hanya ingin menonton ratusan buruh melakukan aksi, tetapi mereka adalah perwakilan para perempuan pekerja rumahan yang sedang ikut berpartisipasi di Mayday. Saya melihat mereka membawa spanduk warna oranye yang bertuliskan “Berikan Hak-Hak Kami, Sejahterakan Perempuan Pekerja Rumahan Indonesia”.

DSC_3587

Istilah pekerja rumahan ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, termasuk pemerintah sendiri. Banyak orang salah mengira bahwa pekerja rumahan adalah mereka yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Pekerja rumahan ini berbeda dengan pekerja rumah tangga. Pekerja rumahan adalah orang yang bekerja dengan menerima perintah dari perusahaan untuk menghasilkan produk mereka yang dibuat secara manual. Tempat kerja biasanya di rumah atau di tempat lain berdasarkan pilihan pekerja rumahan, selain di tempat pemberi kerja (majikan). Pekerja rumahan ini mendapatkan upah yang didasarkan pada jumlah satuan produk atau jasa yang mereka selesaikan.

Aksi pekerja rumahan turun ke jalan dalam acara Mayday adalah dalam rangka untuk menuntut hak-hak mereka yang dianggap belum terpenuhi seperti upah yang masih jauh dari layak, tidak ada jaminan keselamatan kerja dan jaminan ketenagakerjaan serta tidak adanya kepastian kerja bagi mereka. Selain itu, ketidaktahuan para pekerja rumahan akan hak-hak mereka juga dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan dengan cara memeras tenaga mereka. Atas dasar itulah, dalam selebrasi mayday ini mereka bersemangat untuk berjuang menyuarakan tuntutan mereka agar ke depannya, nasib mereka sebagai pekerja rumahan menjadi lebih baik.

Meski jumlah pekerja rumahan hanya sembilan orang dan sangat jauh dibandingkan dengan kelompok-kelompok buruh lainnya, semangat yang mereka miliki tidaklah kalah. Teriknya matahari juga tidak melemahkan semangat mereka. Hingga menjelang sore hari, mereka masih melakukan long march sambil membawa spanduk yang berisikan tuntutan mereka.