Ditengah pandemic virus COVID-19 yang menyerang sejumlah negara tak terkecuali Indonesia, tumbuh kebiasaan baru, yaitu memanusiakan antar sesama. Layaknya membangunkan jati diri bangsa kita yaitu gotong royong dan solidaritas yang sudah lama tidur. Kondisi ini muncul atas dasar keresahan bersama, sehingga perlu kekuatan bersama dalam melawannya. Mengingat penanggulangannya tidak mungkin hanya mengandalkan usaha yang dilakukan pemerintah. 

Segenap elemen masyarakat juga berkontribusi dan memberi solusi untuk mencegahnya. Beragam inisiatif  dan solidaritas pun muncul, seperti yang dilakukan oleh pekerja rumahan atau pekerja informal. Perlu dipahami, dampaknya tidak hanya menyerang kesehatan. Tatanan sosial, pendidikan, ekonomi, politik, dan lain sebagainya juga terdampak. Seperti halnya pekerja rumahan, yang harus ikut merasakan imbasnya. 

Pekerja rumahan sendiri merupakan individu yang mengerjakan sebagian akttivitas produksi barang-barang industry, yang bekerja di rumah atau tempat yang bukan disedikan oleh pemberi kerja. Mereka biasanya mengerjakan berbagai barang industi seperti mengelem sepatu (sektor alas kaki), menjahit baju (sektor garmen), melipat dan mengelem kertas (sektor paper bag) dan lain sebagainya. 

Upah yang mereka dapatkan rendah sebab, dihitung dari satuan order dan jauh dibawah upah minimum. Bayangkan saja, untuk mengerjakan 1000 pcs tas kertas, mereka harus mengerjakan selama dua hari dengan upah 35 ribu. Kondisi ini diperburuk dengan adanya COVID-19, banyak diantara mereka harus menelan pil pahit akibat tidak ada order pekerjaan yang diberikan oleh pemberi kerja. 

Namun demikian, kondisi ini tidak melunturkan semangat mereka untuk bahu membahu membantu sesama pekerja rumahan dalam bertahan hidup. Melalui Jaringan Pekerja Rumahan Indonesia (JPRI), mereka menggalang solidaritas bantuan dari berbagai pihak yang nantinya didistribusikan kepada pekerja rumahan lainnya, yang tidak mendapatkan pekerjaan. Seperti yang terjadi di Jakarta Utara, dalam kondisi saat ini, jumlah pekerjaan yang diberikan pemberi kerja menurun drastis, bahkan pekerja rumahan pada sektor paper bag tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali. 

Akibatnya mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga mereka. Hal tersebut menimbulkan keprihatinan antar sesama pekerja rumahan. Mereka  membantu pekerja rumahan dengan cara membantu negosiasi ke pemberi kerja untuk mendapatkan bantuan. Kemudian, pemberi kerja merespon dengan memberikan paket nasi ayam bagi pekerja rumahan di sektor paper bag. Selain ke pemberi kerja, pekerja rumahan juga menghubungi berbagai lembaga lainnya yaitu Sarah Charity yang selama ini turut mendukung kegiatan pendidikan anak usia dini di wilayah Jakarta Utara khususnya muara baru. 

Upaya yang digagas pekerja rumahan ini membuahkan hasil. Sarah charity memberikan bantuan paket sembako berupa beras, telur, minyak goreng dan mie instan bagi pekerja rumahan dan sebagian warga kurang mampu diwilayah pekerja rumahan. Dalam kegiatan tersebut, sedikitnya terkumpul 100 paket sembako yang dibagikan ke dua wilayah yang merupakan basis pekerja rumahan Jakarta Utara yaitu Muara baru dan Kapuk Muara. 

Upaya lain yang dilakukan oleh perempuan Pekerja Rumahan Jakarta untuk mengurangi meluasnya penyebaran COVID-19. Pekerja Rumahan yang tergabung dalam kader posyandu melakukan sosialisasi kepada warga dilingkungannya tentang bahaya penyebaran COVID-19, hal ini dilakukan sebagai antisipasi meluasnya penyebaran COVID-19. Dalam aktivitasnya tersebut, Ketua JPRI berkordinasi dengan berbagai pihak seperti kelurahan untuk segera dilakukan sterilisasi di rumah warga.

Karena pihak kelurahan tidak menyediakan anggaran khusus untuk melakukan penyemprotan desinfektan, maka pekerja rumahan berinisiatif menggalang dana untuk membeli obat desinfektan serta menyewa alat penyemprotan. Dengan dibantu pihak RT dan Kelurahan setempat  mereka melakukan penyemprotan desinfektan dilingkungan pemukiman warga. Selain melakukan sterilisasi dengan disemprotkannya desinfektan ke lingkungan mereka, dalam mengurangi penyebaran virus COVID-19 pekerja rumahan juga melakukan sosialisasi dengan cara mengingatkan warga masyarakat akan dampak yang ditimbulkan COVID-19 dengan tetap berada dirumah. 

Apa yang dilakukan oleh pekerja rumahan memang masih terlalu kecil dibandingkan dengan solidaritas dilain wilayah yang mampu menggalang bantuan maksimal. Namun jika kita lihat latar belakang pekerja rumahan, kontribusi yang sudah mereka lakukan sangat berarti bagi mereka sesame pekerja rumahan khususnya pekerja rumahan di sector paper bag. Sebab pekerja rumahan yang mayoritas adalah perempuan miskin yang tinggal dipermukiman kumum di sekitar kawasan industry.

Mereka hidup dengan kerentanan sosial-ekonomi. Kondisi kerja yang buruk, dan minimnya akses kesehatan dan keselamatan kerja yang layak turut menambah kerentanan tersebut. Bahkan sebelum adanya pagebluk COVID-19, kondisi kerja mereka untung-untungan. Upah bisa dikatakan sangat rendah dan tidak diakui sebagai pekerja, layaknya pekerja industri lainnya.

Terlebih dengan adanya COVID-19, tentu para pekerja rumahan rentan ini nasibnya semakin terpuruk. Tetapi mereka tidak diam begitu saja, dengan kekuatan solidaritas yang dibangun melalui JPRI ini mereka mampu menunjukan besarnya kekuatan mereka terhadap sesame. Harapan mereka sangat sederhana diakui sebagai pekerja dan wabah ini segera sirna. (Mohammad Setiawan dan Dede Rina)