IMG-20160528-WA0028

“Pakistan merupakan negara pecahan India yang memiliki eskalasi konflik tidak stabil”, ujar Saud dari Human Development Foundation, sebuah organisasi yang berbasis di Pakistan. Konflik di sana terjadi karena banyaknya kelompok-kelompok kecil berasal dari berbeda negara bertemu di satu titik, kepentingannya pun bermacam-macam. Namun pada dasarnya siapa yang kuat dan mayoritas maka akan menguasai dan bisa menjadi makmur. Awal kedatangan kami di Pakistan, disambut oleh pengawalan masuk hotel yang super ketat bahkan penjaganya pun menenteng AK-47. Masuk hotel pun harus melawati tiga lapis penjagaan, bahkan ingin mengambil foto saja kena teguran dari pihak keamanan.

Malam hari, seluruh peserta yang menginap diundang oleh panitia untuk melakukan press conference sekaligus makan malam. Momen tersebut lebih banyak berkenalan mengenai latar belakang dan aktivitas kami semua. Serikat dari Srilanka dan Vietnam, terlihat lucu saat berbincang karena mereka menceritakan dua hal yang kontras. Vietnam bercerita bagaimana pelatihan mereka lakukan lebih elegan dan elit karena berbicara pembangunan, CSR dan pekerja, sedangkan Srilanka banyak bicara upah yang sangat minim serta kondisi kemiskinan struktural.

Keesokan harinya, acara living wages conference dimulai berkat sponsor pemerintah German, Belanda dan Pakistan. Conference tersebut kurang lebih diikuti 200 orang dan mayoritas pesertanya berasal Pakistan.  Tema  conference ini adalah “Realizing Living Wages through social dialogue  in the Asian textile sector-a tripartite “plus” Approach.

Tema besar tersebut  dibagi menjadi tiga sub tema yang nantinya akan dirangkum menjadi satu untuk dibuat  rencana tindak lanjut dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Sub temanya adalah living wages through social dialogue minimum wages(national level), international support for local outcomes and brand’s initiative in supply chain. Peserta dari Indonesia yang terdiri dari Mbak Mimin (playfair Indonesia), Elly (KSBSI), Sani (SBSI), Kusmin (SPN) dan saya (TURC), sepakat untuk dibagi ke dalam sub tema tersebut.

Saya sendiri tertarik dan masuk di brand’s initiative in supply chain, karena ingin mengetahui pola pikir brands dan supplier/sub kon, sekaligus coba melakukan intervensi agar terjadi perbaikan kondisi kerja. ketiga sub tema tersebut memiliki metode workshop berbeda. Pada tema minimum wages menggunakan metode tanya jawab dengan narasumber, tema kedua menggunakan metode fish bowl dan tema ketiga metode workshop yang digunakan round table. Tema ketiga yang saya ikut dibagi lagi  menjadi beberapa kelompok,  supplier initiative, brands initiative, trade union initiative dan NGO initiatives. Pada fase awal saya masuk ke trade union initiative.

Target dari diskusi ini adalah menghasilkan rekomendasi yang lebih konkrit, namun karena di dominasi orang Pakistan ditambah beberapa serikat buruh lebih show up masalah kasus di negara mereka, cukup membuat rumit untuk membuat rekomendasi yang ringkas. hasilnya, kelompok trade union initiative terasa kurang menyusun hasil yang maksimal, membuat panitia mengambil kesimpulan bahwa, masalah di tingkat pabrik cukup rumit karena anggota serikat membutuhkan pendidikan serta wajib menerapkan social dialogue.

Karena belum puas, maka pada fase kedua saya kemudian pindah ke kelompok brands initiative. Anggota kelompok representasi dari serikat buruh hanya ada dua, yaitu Indonesia (SPN) memilih ikut saya dan WFTO (world fair trade organisation), sisanya terdiri dari supplier, NGO dan Brand. Menarik bagi saya karena dalam diskusi ini bisa mengetahui bagaimana logika berpikir supplier, sehingga akan dapat mengetahui celah dan coba melakukan intervensi agar adanya perbaikan kondisi dan kesejahteraan buruh.

Pada tema international support for local outcomes, Elly (KSBSI) selaku narasumber menceritakan bagaimana dukungan internasional melalui FOA serta kampamye guna memperbaiki kehidupan buruh di  garmen dan tekstil, selain itu negosiasi dan komite nasional perlu tetap diakukan guna adanya peningkatan, sehingga demo hanya akan dilakukan ketika dialog sosial mulai bermasalah.

Hasil dari sub tema ini menelurkan hasil bahwa brand wajib mengakui dan mau bekerja sama dengan serikat buruh, mencari model komunikasi untuk menemukan kesepakatan bersama, harus melakukan transparansi upah minimum di suatu wilayah tersebut, brand seharusnya bersikap reaktif terhadap supplier yang bermasalah. Rekomendasi short term, menuntut adanya kepedulian upah minimum yang mencakup perbedaan antara lajang dan yg berkeluarga, membuat rilis upah minimum layak tiap negara, memaksimalkan komite nasional sebagai forum menyelesaikan permasalahan, melakukan identifikasi supply chain sehingga dapat diketahui siapa saja partner brand, serta melakukan penguatan kapasitas anggota serikat buruh melalui pendidikan. Rekomendasi medium term, adalah brand harus melakukan peninjauan ulang masalah kontrak kerjasama dengan supplier/sub kon di setiap wilayah dalam perspektif kerja yang layak, brands harus melakukan audit secara menyeluruh terkait kerjasamanya dengan beberapa perusahaan supplier untuk meminimalisir pelanggaran dan melibatkan serikat pekerja setempat, supplier dan brands yang bekerjasama harus melakukan transparansi mengenai masalah keuangan dan model kerjasama yang mereka lakukan sehingga publik dapat mengetahuinya, setiap monitoring yang dilakukan oleh brands kepada supplier ‘nakal’ harus melibatkan serikat pekerja di dalamnya, bagi supplier atau pabrik yang tidak memiliki serikat buruh harus melakukan audit akan tetapi dilakukan oleh serikat pekerja internasional dan NGO di bidang ketenagakerjaan. Brand dan supplier wajib melakukan peningakatan kapsitas buruh, memperbaharui peraturan ketenagakerjaan di seluruh lapisan, harus memperhatikan pemberi kerja termasuk pekerja rumahan, melakukan review ulang terkait upah minimum, penguatan kapasitas lembaga demi terciptanya collective bargaining  bagi pekerja. Rekomendasi long term, harus adanya pertumbuhan ekonomi bagi pekerja dan perbaikan kondis kerja, melakukan kampanye pembelian produk yang manusiawi dan memperlakukan konsumen sebagai salah satu stakeholder.

Forum ini di dominasi oleh orang pakistan dan seluruh peserta dari serikat pekerja untuk melakukan “show up” kasus di negara mereka masing-masing, sehingga cukup rumit untuk menelurkan satu gagasan yang dapat diterapkan secara luas dan massif. Perbedaan mencolok serikat pekerja antara Eropa dan Asia cukup terlihat. Mayoritas serikat pekerja dari benua asia masih mengeluhkan masalah upah yang sangat minim. Sedangkan Indonesia menceritakan bagaimana implementasi protokol FOA sebagai upaya perbaikan dan program better work merupakan bagian dari saluran dialog sosial dengan pihak manajemen. Isu FOA,  dianggap baru bagi SB/SP Srilanka, Bangladesh, India, Thailand, Cambodia, vietnam, dan Myanmar. Sedangkan bagi China dan Hongkong, mereka lebih pasif, karena yang hadir dari kalangan NGO. Sedangkan serikat pekerja dari eropa, bercerita bagaimana konsep collective bargaining serikat buruh sebagai kekuatan untuk melakukan social dialogue dengan pemberi kerja supaya terciptanya keadilan sosial, sekaligus memberikan motivasi agar serikat pekerja memperkuat posisinya, kekuatan serikat buruh bukanlah di elit organisasi melainkan di anggotanya. Motto tersebut berulang kali diucapkan oleh beberapa representasi serikat pekerja dari benua Eropa.

Terakhir, hasil secara keseluruhan akan dirangkum terlebih dahulu oleh panitia dan dibagikan kepada seluruh peserta yang hadir dan posisi indonesia di internasional cukup diperhitungkan. Karena menurut saya beberapa isu dan keberhasilan yang dilakukan bukan hanya berkutat di upah semata. Kritik acara ini, bahwa pertemuan sebelumnya di Hongkong belum menunjukkan tanda-tanda tindak lanjut sehingga banyak peserta dari forum ini pesimis dengan berlangsungnya ALWC di Pakistan.

Implementasi perbaikan di kondisi nasional melalui project international standard in global chain (ILO) di Indonesia, antara pengusaha dan serikat buruh terancam hancur. Penyebabnya aktor dari serikat buruh yang masuk bukanlah mewakili SB yang berkutat di sektor garmen dan tekstil (SBSI,SPN, GSBI) tapi Rusdi (KSPI) juga termasuk di dalamnya. Hal itu karena ILO memberika undangan berdasar hirarki organisasi (KSPI), namun undangan tersebut tidak sampai pada SPN. Bahkan pihak SPN mengancam akan keluar dan menolak project tersebut jika Rusdi tetap diikutkan dalam project tersebut. Kondisi di nasional tersebut, memberikan potensi ancaman bahwa perbaikan di garmen dan tekstil tidak akan berjalan dengan mulus. Beberapa asumsi pun muncul, bahwa SPN membuat kesalahan besar telah bergabung dengan KSPI.

Terkait pertanyaan mengani audit yang dilakukan oleh NGO di tingkat pabrik pun bisa dilakukan, metode yang dilakukan menggunakan kualitatif dengan beberapa modifikasi tools,  untuk penyesuaian untuk melakukan assesment. Sustainability Agents SUSA GmbH,  telah melakukan hal serupa guna menilai kondisi kerja. Brands yang datang antara lain, Gul Ahmed Textille Mills, H&M, Li&Fung Pakistan, Polly&me, Impactt Limited, fairtrade Network of Asia&pacific Producers, uniqlo, Masood textille mills, C&A, Inditex, Levi strauss, Nishat Mills, GAP inc, M.S Collection, Primark, softwood.

 

Keadaan Pakistan

Selain mengikuti conference di Pakistan saya juga berkenalan dengan Saud (Human development foundation) yang berperan sebagai narasumber kondisi Pakistan. Rasa makanannya seperti masakan India namun lebih bersahabat di lidah. Supir taxi sampai menawarkan diri untuk mengantar ke pasar tradisional PP plus bersedia menunggu (makan tongseng)  dan jalan2 kurang lebih 2 jam hanya demi mendapatkan 60 rupee. 🙂

Saat di conference, ada pejabat dari pakistan (Syed Alamgir) bercerita pernah berkunjung ke Indonesia untuk melakukan pertemuan dengan Mantan Presiden Abdurrahman Wahid dan menanyakan kabar beliau :).

Ada tokoh (Rana Bhai Shah) yang berusia sangat tua, karena pernah bertemu dengan beberapa politisi tua dari Pakistan dan diperkuat dengan bukti foto (sekarang politis tersebut sudah banyak yang meninggal) serta familiar dengan Gus Dur (karena itu yg diketahuinya tentang Indonesia). Profesinya sekarang sebagai saksi hidup cagar budaya Pakistan kuno beserta cerita-cerita lama yang belum banyak orang lokal ketahui. Pos polisi di Pakistan beraroma kapitalis, karena setiap pos polisi di wilayah Islamabad selalu memiliki sponsor “Pepsi”. Sebenarnya penduduk Pakistan pada umumnya sangat ramah, tak jarang kamis semua selalu diajak “selfie” oleh penduduk lokal apalagi jika melihat struktur wajah yang khas bukan dari “Asia Selatan” (seperti jd artis). Kondisi kota jauh lebih bagus daripada Indonesia, negara pecahan India ini memang sering terjadi konflik namun dibalik itu semua, media masih belum melakukan ekspos bagaimana keindahan alam Pakistan sungguh nikmat untuk dipandang dan sejenak mengalihkan bahwa atmosfir panas negara yang sedang dalam posisi rawan konflik horisontal antar suku mendadak menjadi sejuk untuk dinikmati.

Serikat Buruh di Pakistan mayoritas beraliran kiri-fundamentalis, kiri (melawan penguasa fundamentalis), “sedikit” sosialis (spirit melawan imperealisme pengusaha dan kepentingan asing). kondisi serikat buruh di Pakistan berkutat masalah kelas, namun analisis Marxian saja tidak cukup. Sebab pertarungan kelas horisontal antar SP kerap kali terjadi karena memperebutkan resources akses, bahkan pernah SP terkooptasi oleh ulah penguasa. Eskalasi konflik SP/SB jika dibandingkan dengan Indonesia, lebih buruk di Pakistan, karena ideologi masih menjadi variabel sangat penting. Sehingga tidak heran jika perjuangan mereka masih dalam batas kenaikan upah, pelecehan dan tuntutan kerja yang manusiawi (bukan konsep welfare namun masih berjuang agar  wellbeing). Peserta dari eropa agak sumringah, karena kondisi di Indonesia agak lebih baik dari beberapa negara asia yang lain, hal tersebut dilihat dari data statistik PDB negara dan isu yang sedang berkembang.

JIka disimpulkan SB/SP di Asia mayoritas bergulat pada isu upah dan outsourcing semata namun di Eropa memaknai bahwa collective bargaining ada di tangan anggota serta perluasan kepdulian isu buruh kepada masyarakat sosial. Selain itu ETI (ethical trading initiative) tertarik untuk bekerjasama dengan TURC, guna melaksanakan pelatihan-pelatihan perburuhan.

Ditulis oleh: Rahmat Fauzi