Kondisi meja kerja pekerja rumahan.

Kondisi meja kerja pekerja rumahan.

 

Menjahit memang lumrah dikerjakan oleh ibu-ibu yang sedang berada di rumah. Hal tersebut menjadi tidak biasa ketika hasil jahitan harus disetorkan kepada “agen” lalu dibawa ke pabrik. Pembawa hasil jahitan tersebut merupakan perantara, tugasnya sebagai jembatan antara pekerja dan perusahaan yang menyediakan bahan baku. Sirkulasi tersebut sudah lama terjadi di Sukabumi, perusahaan dibantu oleh perantara dalam menyelesaikan target produksi dengan menyebar pekerjaan kepada orang yang memiliki kemampuan yang sesuai. Bagi perusahaan hal tersebut memperingan pekerjaan, perantara atau disebut subkon oleh perusahaan, mereka adalah orang yang dipercaya dan diyakini dapat membantu menyelesaikan target.

 

Dari pandangan pekerja hal tersebut menimbulkan dualitas polemik. Pekerjaan yang diperoleh dari perantara merupakan peluang bagi kaum  ibu demi membantu perekonomian keluarga, tidak jarang pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan utama mereka. Aktivitas tersebut dinamakan dengan pekerja rumahan. Dalam kerangka perburuhan, hal tersebut rawan memunculkan berbagai pelanggaran. Karena dalam bekerja tidak dilengkapi dengan standar kesehatan, keselamatan kerja yang layak. Bahkan anggota keluarga yang lain seringkali dilibatkan dalam menyelesaikan pekerjaan. Konon berdasar penelusuran pekerjaan tersebut sudah ada sejak awal tahun 2000an.

 

Ibu-ibu pekerja rumahan tersebut cenderung tidak terdeteksi, bersembunyi, biasanya berkelompok, dan termasuk dalam indikator miskin menurut hasil survey sosial ekonomi nasional (susenas). Gambar di bawah ini adalah rumah salah satu pekerja rumahan, ibu bunga (bukan nama sebenarnya) selalu bekerja sepanjang hari tanpa mengenal lelah. Beliau memiliki 5 pekerja yang menjahit baju dan dikerjakan di rumahnya.  Pekerjaan tersebut dilakukan bersama dengan suaminya. Foto subjek memang tidak ditampilkan, hal ini guna menjaga kerahasiaan identitas sebenarnya. Karena hal ini bagian dari penelitian maka ulasan lengkapnya akan dibahas mendalam dalam laporan penelitian dan rencanannya akan diproduksi massal berupa buku. (Rahmat Fauzi Saleh)