pekerja-rumahan, buruh, organisasi-buruh, trade-union-rights-centre, turc, jaminan-sosial, jamsos, bpjs-ketenagakerjaan, jaminan-kematian, jaminan-kecelakaan-kerja, buruh-rumahan, pekerja-rumahan-sukabumi, buruh-rumahan-sukabumi

Anggota Kelompok Pekerja Rumahan Sukabumi berfoto bersama.

TURC telah berbulan-bulan lamanya hadir di Kota dan Kabupaten Sukabumi untuk mengenal lebih dalam daerah ini: geografisnya, karakteristiknya, cuacanya, makanannya, transportasinya, dan pekerja rumahannya.

Sukabumi, terbagi dalam dua daerah administrative: Kota dan Kabupaten. Untuk Kota, terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat serta bagian barat dayda dari wilayah dan terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang ketinggiannya 584 m di atas permukaan laut, dengan suhu maksimum 29 °C.

Keseluruhan, Kota Sukabumi berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi yang mana juga menjadi wilayah kerja TURC. Kabupaten Sukabumi adalah wilayah terluas kedua setelah Kabupaten Banyuwangi di Jawa Barat dengan luas wilayah 4.128 km2. Dengan cangkupan wilayah yang cukup besar, masa observasi mendalam di wilayah ini memakan waktu yang cukup lama.

Sebagai organisasi yang focus di isu ketenagakerjaan, TURC menjadikan dua daerah ini sebagai wilayah kerja berbekal informasi awal: Kabupaten Sukabumi adalah salah satu wilayah industry besar di Jawa Barat, dengan begitu, TURC berharap akan menemukan pekerja rumahan yang menjadi target penerima manfaat dari kerja TURC.

Di sana, nilai-nilai domestic gender seperti “Ibu rumah tangga adalah kodrati manusia perempuan yang memikul tugas untuk merawat keluarganya” masih tertanam di mayoritas para perempuan – khususnya para pekerja perempuan. Mereka bekerja sebagai pekerja rumahan, dimana mereka bekerja dengan kondisi rentan, keberadaannya tidak dimunculkan dalam rantai pasok industri, dan hak sebagai pekerja belum mereka ketahui secara komprehensif. Ditilik dari berbagai sudut pandang, kondisi kerja, jaminan sosial dan perlindungan ketenagakerjaan pekerjaan yang mereka lakukan memiliki resiko tinggi (ILO, 2016).

Meski bekerja, para perempuan pekerja masih belum menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah pekerjaan. Padahal, mereka terlibat dalam hubungan kerja, menghasilkan produk/jasa, dan mendapatkan upah atas produktivitasnya tersebut. Pekerjaan tersebut dilakukan demi memenuhi – tambahan kebutuhan ekonomi keluarga. Dalam struktur sosial keluarga, posisi mereka memainkan peran penting sebagai penyeimbang sekaigus pencari nafkah. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang layak sebagai pekerja, dimana konstruksi tersebut belum terlintas dalam pikiran perempuan pekerja, pemberi kerja mereka atau perantara pekerjaan.

Setelah melakukan observasi mendalam, TURC memutuskan untuk mengisi gap tersebut, dengan pendataan awal, penelitian dan pendidikan kepada para pakerja tesebut. Pada akhir tahun 2016, berdirlah dua kelompok pekerja rumahan yang berada di Sukabumi: Perempuan Pekerja Citra Mandiri (PPCM) dan Pekerja Rumahan Perempuan Kreatif (PPRK). Dua kelompok ini terdiri dari latar belakang pekerjaan yang beragam, dari penjahit pakaian jadi, penjahit mute (menempel manik-manik), dan perakit headset yang melibatkan sampai lima puluh orang pekerja rumahan. Dengan terbentuknya dua kelompok pekerja rumahan ini, TURC berharap para pekerja rumahan di Sukabumi dapat mengakses kerja dan hidup yang layak sebagai pekerja rumahan dan bergabung dengan perjuangan pekerja rumahan di daerah lainnya seperti di Solo, Sukoharjo, Cirebon, Jakarta, dan Tangerang. (Rahmat Fauzi/Yasinta Sonia).

 

Ditulis oleh: Rahmat Fauzi