Komplotan Jakarta 32c bersama TURC menggelar pameran bertema buruh di Gudang Sarinah. Para seniman kelas menengah yang terlibat coba belajar memahami semangat tuntutan buruh.

Sebelum diajak kolektif seni Komplotan Jakarta 32c memamerkan karyanya, Denis Heryanto Arham mengaku tak pernah mengikuti isu buruh dan serikat pekerja. Dia tak paham apalagi yang diperjuangkan buruh setiap menggelar demonstrasi pada 1 Mei. “Gue [sebelumnya] engga tahu apa-apa lah tentang buruh. Gue cuma tahu kalau buruh itu pekerja pabrik, buruh itu demonstrasi lah.” Namun, sepintas lewat karyanya, Denis kini terkesan sangat menguasai isu buruh. Dia menyablon tulisan “P P 7 8” sebesar 4 meter di sebuah tembok putih sebagai salah satu karyanya. Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 adalah beleid disahkan Presiden Joko Widodo, initinya mengatur mekanisme penetapan upah minimum provinsi. Peraturan yang dianggap merugikan kelas pekerja itu menjadi sasaran tuntutan buruh seluruh Indonesia setiap May Day sejak ditandatangani tiga tahun lalu.

Karya instalasi Denis, diberi judul Komponen Kehidupan [Life’s Component] dipajang di dinding ruang pameran. Selain sablonan huruf-huruf di atas, Denis membingkai empat gambar, yang mana semuanya merupakan tiruan uang kertas keluaran Bank Indonesia. Alih-alih menampilkan gambar pahlawan, tiruan uang Denis dihiasi dengan figur menyerupai manusia. Selain itu, dia juga menaruh dua tumpuk uang tiruan—satu tumpuk berbentuk koin dan satu lagi dalam bentuk kertas dengan tumpukan yang lebih besar—dalam sebuah kotak kaca yang disertai dua label: gaji pokok dan tunjangan. Denis juga mencetak definisi kedua komponen gaji ini agar tak dicampuradukkan “Pas sudah tau, gue malah jadi tertarik banget. Oh ternyata ini kenapa buruh suka demo, kenapa mereka banyak yang engga sejahtera.”

Denis tak sendiri. Dia adalah satu dari sepuluh seniman yang memamerkan karya mengenai buruh di area Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan. Masing-masing seniman berusaha menawarkan perspektif pribadinya tentang permasalah buruh. Pameran itu, diberi tajuk Labour Culture Exhibition, digagas oleh TURC, sebuah lembaga swadaya yang berkecimpung dalam advokasi buruh sejak 2004. Sebelum pameran dimulai, para seniman yang terlibat dan TURC rutin mengadakan pertemuan untuk berdiskusi dan membuka mata seniman terhadap isu kelas pekerja. “Kita mau mendekatkan isu ini. Mungkin bukan ‘membumikan.’ Yang kita lihat sekarang, apa yang ada di media itu terlalu eksklusif. [Kesannya] buruh itu adalah yang kerja di pabrik, dan kerjaan mereka cuma demo di jalanan. Padahal kan jauh lebih besar dari itu,” kata Priscilla Purnama dari TURC.

Para seniman berdiskusi dengan perwakilan TURC.

Lewat karya berjudul“Who are the laborers?” Indrastiningtias—atau biasa dipanggil Indra—menyentuh permasalahan ini dalam karyanya Makan Malam Bersama [Dinner Together]. Indra merekam adegan makan malam yang melibatkan dirinya, sang ibu, dan dua pembantu yang selama ini bekerja di rumahnya. “Mereka buruh juga kan? Nyokap gue majikannya. Tapi mereka piringnya beda, sendoknya beda,” ujarnya. Dalam karya ini Indra tak hendak mendobrak batasan antara keluarga dan asisten keluarganya. Dia baru sebatas melakukan identifikasi. “Mereka akan tetap menjadi majikan dan buruh. Gue cuma mau mereka makan bareng, nambah anggota meja makan.”

Semangat identifikasi masalah ini menjadi benang merah pameran TURC dan Jakarta 32c. Para seniman ingin menyuguhkan beberapa pertanyaaan, tak sekadar menggelontorkan informasi mengenai buruh. Mereka pun menjalin kerja sama dengan mahasiswa saat mempersiapkan acara ini. “Lingkaran target yang pertamanya itu mahasiswa, terus serikat buruh, baru masyarakat yang lebih luas,” kata Jun Robbani yang bertugas sebagai manajer pameran. TURC turut mengamini agenda tersebut. Menarik perhatian mahasiswa dianggap strategis agar tujuan pameran ini tercapai. “Mahasiswa itu kan juga akan menjadi buruh nantinya. Mereka akan menjadi bagian dari angkatan kerja baru. Mereka seharusnya tahu hak dan kewajiban mereka sebagai buruh, seperti apa yang disuarakan oleh para buruh di jalanan,” imbuh Priscilla.

Komponen Kehidupan karya dari Denis Heryanto Arham.

Mengacu definisi buruh yang digunakan dalam pameran—yakni seseorang atau sekelompok orang yang disewa oleh seorang majikan untuk melakukan pekerjaan tertentu dan mendapatkan imblan—Labour Culture Exhibition bisa dibilang memperluas batas-batas buruh. Semua komponen acara ini—seniman, kurator bahkan mereka yang bekerja untuk TURC—adalah buruh. Sayangnya, premis utama itu belum termanifestasikan dalam karya-karya yang dipamerkan. Saat mengeksekusi tema pameran, para seniman yang terlibat masih terjebak pada definisi kaku soal buruh: hanya tentang manusia yang bekerja di pabrik, pekerja bangunan dan pembantu rumah tangga. Meski demikian, beberapa karya berhasil memperluas pengertian buruh hingga mencakup pekerja kerah putih dan para pekerja paruh waktu. Terkait keterbatasan tafsir itu, para seniman yang terlibat mengakui persoalan buruh ini sesuatu yang baru bagi mereka.

‘All About the Right of Labour’ karya dari Gani Dharmansyah Putra.

“Gue punya kesadaran untuk berserikat sekarang. Itu penting. Gue jadi tahu hak-hak gue apa,” jawab Indra saat ditanya apa dampak pameran ini pada dirinya. Denis mengemukakan pendapat nyaris serupa, “Gue pun malah jadi pengen ngulang lagi [pelajaran] sejarah, karena mungkin apa yang gue baca sebelumnya belum lengkap. Gue punya usulan juga, kenapa kita engga punya kampanye sosial yang lebih mengedukasi tentang buruh.”

Bagi Priscilla, gagasan Labour Culture Exhibition idealnya bisa menjangkau khalayak sebanyak-banyaknya. “Kalaupun pameran ini ternyata sepi dan engga ada yang datang, minimal sudah ada 10 orang anak muda di Jakarta yang perspektifnya tentang buruh telah berubah.”

Artikel asli : https://www.vice.com/id_id/article/memperluas-definisi-buruh-lewat-karya-seni