Siang hari, di sebuah perkampungan di wilayah kabupaten Cirebon, beberapa orang pekerja rumahan sedang sibuk menganyam rotan menjadi alat-alat perabotan seperti kursi dan meja. Cirebon memang dikenal sebagai kota industri penghasil rotan, baik dari pasar lokal maupun internasional.

Namun karena rantai pasok yang panjang, pekerja rumahan tidak mendapatkan pesanan langsung dari buyer. Mereka dipekerjakan oleh perusahaan yang memiliki akses hubungan kerja dengan buyer baik dari pasar dalam negeri maupun luar negeri. Sehingga pekerja rumahan tidak memiliki kuasa untuk bernegosiasi dan tidak tahu menahu kemana larinya produk-produk itu dijual. Mungkin kita juga tidak menyadari, toko-toko perabotan kawakan berlabel internasional yang sering kita sambangi, menampung hasil-hasil kerja pekerja rumahan. Bahkan ketika produk-produk tersebut dipasok ke pasar negara-negara Eropa dengan harga yang fantastis dan tidak sebanding dengan upah yg diterima pekerja rumahan.

Alat streples tembak sebagai alat produksi utama yang digunakan pekerja rumahan memiliki resiko kecelakaan kerja

Dalam proses produksinya, pekerja rumahan rotan menggunakan benda tajam dan alat-alat yang memiliki resiko kecelakaan kerja seperti streples tembak, paku, palu, gunting, obeng, dan lainnya. “Tangan saya pernah kena streples tembak sampai tembus bolong ke kuku. Pertolongan pertamanya ya saya celupin saja ke minyak tanah. Karena gak ada P3K”, ujar salah satu pekerja rumahan yg pernah mengalami kecelakaan kerja.

Tak sampai disitu, resiko kecelakaan kerja tidak hanya menimpa pekerja rumahan itu sendiri.
Seperti yang terjadi di foto ini. Seorang anak yang masih dibawah umur berada dekat ibunya yang sedang bekerja, di sebuah bengkel yang berserakan alat-alat produksi. Anak tersebut tampak menggenggam sebuah palu, yg ia jadikan mainan. Tentu saja resiko kecelakaan kerja tidak hanya datang pada pekerja rumahan, tetapi anak-anak mereka yg berada di tempat kerja juga menjadi perhatian utama.

Pekerja Rumahan bekerja sambil membawa anak mereka

Anak pekerja rumahan memegang palu sebagai mainannya

Sudah seharusnya pihak perusahaan memperhatikan kondisi kerja dan keamanan pekerja rumahan beserta anak-anak mereka yang (mau tidak mau) dilibatkan dalam aktivitas prosuksi. Jaminan perlindungan K3 yg layak, pertolongan pertama pada kecelakaan kerja, serta adanya pengawasan pada keamanan dan keselamatan kerja bagi pekerja rumahan dan anak-anak mereka, menjadi hak-hak yg harus mereka dapatkan. (EVN)